Kamis, 08 Maret 2018

Tuntutan Perubahan Pendidikan Kejuruan

 

Tuntutan Perubahan Pendidikan Kejuruan 

Perubahan tehnologi menuntut ada perubahan juga pada pendidikan kejuruan, karna sekarang ini tatanan kehidupan biasanya serta tatanan perekonomian pada terutama tengah alami pergeseran paradigma ke arah global. Pergeseran ini juga akan buka kesempatan kerja sama antar Negara makin terbuka serta di sisi 
beda, persaingan perebutan antar Negara makin ketat. Untuk tingkatkan kekuatan persaingan perebutan dalam perdagangan bebas, dibutuhkan rangkaian kemampuan daya saing yang kuat, diantaranya kekuatan manajemen, tehnologi serta sumber daya manusia. Sumber daya manusia adalah sumber daya aktif yang bisa memastikan keberlangsungan hidup serta kemenangan dalam persaingan perebutan satu bangsa. 
Pendidikan mempunyai peranan yang begitu strategis dalam wujudkan sumber daya manusia yang kuat untuk hadapi persaingan perebutan bebas. Termasuk juga pendidikan kejuruan yang mempersiapkan peserta didik atau sumber daya manusia yang mempunyai kekuatan kerja jadi tenaga kerja menengah sesuai sama tuntutan dunia usaha serta dunia industri. Oleh karenanya sesuai sama tuntutan perubahan pendidikan kejuruan, jadi memerlukan pengembangan pendidikan serta kursus kejuruan di SMK untuk masa depan. 
1. Tuntutan peserta didik 
Pendidikan kejuruan mempunyai peranan untuk mempersiapkan peserta didik supaya siap bekerja, baik bekerja dengan mandiri (wiraswasta) ataupun isi lowongan pekerjaan yang ada. SMK jadi satu diantara institusi yang mempersiapkan tenaga kerja, dituntut dapat hasilkan lulusan seperti yang diinginkan dunia kerja. Tenaga kerja yang diperlukan yaitu sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi sesuai sama bagian pekerjaannya, mempunyai daya penyesuaian serta daya saing yang tinggi. Atas basic itu, pengembangan kurikulum dalam rencana penyempurnaan pendidikan menengah kejuruan mesti sesuai dengan keadaan serta keperluan dunia kerja. 
Tuntutan peserta didik serta lulusan yang sesuai sama keperluan dunia kerja butuh jadikan sumber pijakan didalam merumuskan maksud pendidikan kejuruan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jadi bentuk unit pendidikan kejuruan seperti ditegaskan dalam keterangan Pasal 15 UU SISDIKNAS, adalah pendidikan menengah yang menyiapkan peserta didik terlebih untuk bekerja dalam bagian spesifik, yang dirumuskan dalam maksud umum serta maksud spesial seperti berikut. 
Maksud Umum : 
a. Tingkatkan keimanan serta ketakwaan peserta didik pada Tuhan Yang Maha Esa 
b. Meningkatkan potensi peserta didik supaya jadi warga Negara yang berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis serta bertanggungjawab. 
c. Meningkatkan potensi peserta didik supaya mempunyai pikiran kebangsaan, mengerti serta menghormati keanekaragaman budaya bangsa Indonesia 
d. Meningkatkan potensi peserta didik supaya mempunyai kepedulian pada lingkungan hidup, dengan dengan aktif ikut pelihara serta melestarikan lingkungan hidup, dan memakai sumber daya alam dengan efisien serta efektif. 
Maksud Spesial : 
a. Mempersiapkan peserta didik supaya jadi manusia produktif, ataupun bekerja mandiri, isi lowongan pekerjaan yang berada di dunia usaha serta industri jadi tenaga tingkat kerja menengah, sesuai sama kompetensi dalam program ketrampilan yang dipilihnya. 
b. Mempersiapkan peserta didik supaya dapat pilih karier, ulet serta gigih dalam bersaing, menyesuaikan di lingkungan kerja, serta meningkatkan sikap profesional dalam bagian ketrampilan yang disukainya. 
c. Membekali peserta didik dengan ilmu dan pengetahuan, tehnologi serta seni, supaya dapat meningkatkan diri di masa datang baik dengan mandiri ataupun lewat tahap pendidikan yang lebih tinggi 
d. Membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi sesuai sama program ketrampilan yang diambil. 
(Disarikan dari Kurikulum SMK Program Ketrampilan Tata Baju, 2004). 

2. Tuntutan menjawab keperluan orang-orang 
Dilihat dari perspektif perubahan keperluan evaluasi serta aksesibilitas duia usaha/industri, sedikitnya tiga dimensi pokok sebagai tantangan untuk SMK, baik dalam konteks regional ataupun nasional, salah satunya : 
a. Implementasi program pendidikan serta kursus mesti fokus pada pendayagunaan potensi sumber daya lokal, sembari memaksimalkan hubungan kerja dengan intensif dengan institusi pasangan 
b. Proses kurikulum mesti berdasar pada pendekatan yang lebih fleksibel sesuai sama tren perubahan serta perkembangan tehnologi supaya kompetensi yang didapat peserta didik sepanjang serta setelah ikuti program diklat, mempunyai daya penyesuaian yang tinggi 
c. Program pendidikan serta kursus seutuhnya mesti bertujuan mastery learning (belajar selesai) dengan melibatkan peranan aktif – partisipatif beberapa stakeholders pendidikan, termasuk juga optimalisasi peranan Pemerintah Daerah untuk merumuskan pemetaan kompetensi ketenagakerjaan di daerahnya jadi input untuk SMK dalam penyelenggaraan diklat berkepanjangan. 
Untuk mencari jalan keluar dari tantangan itu diatas, SMK jadi satu diantara instansi penyelenggara pendidikan serta kursus kejuruan mesti dapat memberi service pendidikan paling baik pada peserta didik meskipun keadaan fasilitasnya begitu bermacam. Seperti di ketahui, kalau investasi serta pembiayaan operasional paling besar yang dikerjakan oleh pemerintah dalam pendidikan kejuruan yaitu pada system SMK. Dengan fenomena ini, apakah SMK masih tetap dibutuhkan? 
Pembukaan serta penutupan satu SMK pada intinya begitu bergantung pada tuntutan keperluan pengembangan sumber daya manusia di lokasi atau daerah setempat. Pembukaan institusi SMK baru begitu bisa saja bila ada tuntutan keperluan sumber daya manusia yang berkaitan dengan peranan serta peranan SMK. Seperti yang dikemukakan Djojonegoro (1998), kalau : “Secara teoritik pendidikan kejuruan begitu dipentingkan karna lebih dari 80 persen tenaga kerja di lapangan kerja yaitu tenaga kerja tingkat menengah ke bawah serta bekasnya kurang dari 20 persen bekerja pada susunan atas. Oleh karenanya, pengembangan pendidikan kejuruan terang adalah hal perlu”. 
Penutupan satu institusi SMK cuma bisa saja bila dengan hukum tidak bisa dipertahankan atau karna ada tuntutan orang-orang yang sekalipun tidak bisa dipertahankan atau dijauhi. Tetapi pada intinya, tak ada argumen untuk tutup SMK sepanjang institusi itu masih tetap bisa menggerakkan peranan serta peranan dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. 
Usaha untuk mempertahan SMK yang bisa menjawab tuntutan keperluan orang-orang, dalam hal semacam ini SMK mesti dapat menggerakkan peranan serta peranannya dengan baik. Dalam menggerakkan peranan serta peranannya itu, jadi pendidikan serta kursus di SMK butuh memerhatikan prinsip-prinsip pendidikan kejuruan yang dikemukakan Prosser (Djojonegoro, 1998) ; seperti berikut : 
a. Pendidikan kejuruan juga akan efektif bila lingkungan di mana siswa dilatih adalah tiruan lingkungan di mana kelak ia juga akan bekerja. 
b. Pendidikan kejuruan yang efisien cuma bisa diberi di mana beberapa pekerjaan latihan dikerjakan lewat cara, alat serta mesin yang sama dengan yang diputuskan ditempat kerja. 
c. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila dia melatih seorang dalam rutinitas berfikir serta bekerja seperti yang dibutuhkan dalam pekerjaan itu sendri 
d. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila dia bisa memampukan tiap-tiap individu memodali minatnya, pengetahuannya serta ketrampilannya pada tingkat yang paling tinggi 
e. Pendidikan kejuruan yang efisien untuk tiap-tiap profesi, jabatan atau pekerjaan cuma bisa diberi pada seorang yang memerlukannya, yang menginginkannya serta yang bisa untung darinya 
f. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila pengalaman latihan untuk membuat rutinitas kerja serta rutinitas berfkir yang benar diulangkan hingga cocok seperti yang dibutuhkan dalam pekerjaan nantinya 
g. Pendidikan kejuruan juga akan efisien bila gurunya sudah memiliki pengalaman yang berhasil dalam aplikasi ketrampilan serta pengetahuan pada operasi serta sistem kerja yang juga akan dikerjakan 
h. Pada tiap-tiap jabatan ada kekuatan minimal yang perlu dimiliki oleh seorang supaya dia tetaplah bisa bekerja pada jabatan tersebut 
i. Pendidikan kejuruan mesti memerhatikan keinginan pasar (memerhatikan sinyal tanda pasar kerja) 
j. Sistem pembinaan rutinitas yang efisien pada siswa juga akan terwujud bila kursus diberi pada pekerjaan yang nyata 
k. Sumber yang bisa diakui untuk ketahui isi kursus disuatu okupasi tersebut 
l. Tiap-tiap okupasi memiliki tanda-tanda isi (body of kontent) yang tidak sama satu dengan yang lainnya 
m. Pendidikan kejuruan juga akan adalah service sosial yang efektif bila sesuai sama keperluan seorang yang memanglah membutuhkan serta memanglah paling efisien bila dikerjakan lewat pengajaran kejuruan 
n. Pendidikan kejuruan juga akan efektif bila cara pengajaran yang dipakai serta hubungan pribadi dengan peserta didik memperhitungkan sifat-sifat peserta didik tersebut 
o. Administrasi pendidikan kejuruan juga akan efektif bila dia luwes serta mengalir dari pada kaku serta terstandar 
p. Pendidikan kejuruan membutuhkan cost spesifik apabila tidak tercukupi jadi pendidikan kejuruan tidak bisa dipaksakan beroperasi. 

3. Tuntutan pengelolaan pendidikan kejuruan 
Tuntutan pengelolaan pada pendidikan kejuruan mesti sesuai sama kebijakan link and match, yakni perubahan dari alur lama yang relatif berupa pendidikan untuk pendidikan ke satu yang lebih jelas, terang serta konkrit jadi pendidikan kejuruan jadi program pengembangan sumber daya manusia. Dimensi pengembangan yang di turunkan dari kebijakan link and match, yakni : 
a. Perubahan dari pendekatan Suplai Driven ke Permintaan Driven 
Dengan deman driven ini menginginkan dunia usaha serta dunia industri atau dunia kerja lebih bertindak didalam memastikan, mendorong serta menggerakkan pendidikan kejuruan, karna mereka yaitu pihak yang lebih mempunyai urusan dari pojok keperluan tenaga kerja. Dalam pengerjaannya, dunia kerja turut berpartisipasi karna sistem pendidikan tersebut lebih menguasai dalam memastikan kwalitas tamatannya, dan dalam pelajari hasil pendidikan itupun dunia kerja turut memastikan agar hasil pendidikan kejuruan itu terjamin serta terarah dengan ukuran dunia kerja. 
Jadi satu diantara bentuk aplikasi prinsip permintaan driven, jadi dalam pengembangan kurikulum SMK mesti lakukan sinkronisasi kurikulum yng direalisasikan dalam program Pendidikan System Ganda (PSG). Dengan lakukan sinkronisasi kurikulum, penyelengaraan evaluasi di SMK diusahakan sedekat mungkin saja dengan keperluan serta keadaan dunia kerja/industri, dan mempunyai relevansi serta fleksibilitas tinggi dengan tuntutan lapangan. Lewat sinkronisasi kurikulum ini, diinginkan sekolah bisa membaca ketrampilan serta performansi apa yang diperlukan dunia usaha atau industri agar bisa dimasuki oleh lulusan SMK. 

b. Perubahan dari pendidikan berbasiskan sekolah (School Based Program) ke system berbasiskan ganda (Dual Based Program) 

Perubahan dari pendidikan berbasiskan sekolah, ke pendidikan berbasiskan ganda sesuai sama kebijakan link and match, menginginkan agar program pendidikan kejuruan itu dikerjakan di dua tempat. Beberapa program pendidikan dikerjakan di sekolah, yakni teori serta praktik basic kejuruan, serta beberapa yang lain dikerjakan didunia kerja, yakni ketrampilan produktif yang didapat lewat prinsip learning by doing. Pendidikan yang dikerjakan lewat sistem bekerja didunia kerja juga akan memberi pengetahuan ketrampilan serta nilai-nilai dunia kerja yang mustahil atau susah didapat di sekolah, diantaranya pembentukan pikiran kualitas, pikiran kelebihan, pikiran pasar, pikiran nilai lebih, serta pembentukan etos kerja. 

c. Perubahan dari jenis pengajaran yang mengajarkan mata-mata pelajaran ke jenis pengajaran berbasiskan kompetensi 

Perubahan ke jenis pengajaran ke berbasiskan kompetensi, punya maksud membimbing sistem pengajaran dengan segera bertujuan pada kompetensi atau beberapa unit kekuatan. Pengajaran berbasiskan kompetensi ini sekalian membutuhkan perubahan paket kurikulum kejuruan kedalam paket berupa paket-paket kompetensi. 

d. Perubahan dari program basic yang sempit (Narrow Based) ke program basic yang mendasar, kuat serta luas (Broad Based) 

Kebijakan link and match menuntut ada pengembangan, menghadap pada pembentukan basic yang mendasar, kuat serta lebih luas. System baru yang berwawasan sumberdaya manusia, berwawasan kualitas serta kelebihan berpedoman prinsip, kalau : mustahil membuat sumberdaya manusia yang berkwalitas serta yang mempunyai kelebihan, bila tidak dengan diawali pembentukan basic yang kuat. Dalam rencana penguatan basic ini, jadi peserta didik butuh di beri bekal basic yang berperan untuk membuat kelebihan, sekalian menyesuaikan pada perubahan IPTEK, dengan menguatkan penguasaan matematika, IPA, Bhs Inggris serta Computer. System baru ini mesti berikan basic yang lebih luas namun kuat serta mendasar, yang sangat mungkin seorang tamatan SMK mempunyai kekuatan beradaptasi pada peluang perubahan pekerjaan. 

e. Perubahan dari system pendidikan resmi yang kaku, ke system yang luwes serta berpedoman prinsip multy entry, multy exit 

Dengan terdapatnya perubahan dari suplai driven ke permintaan driven, dari schools based program ke dual based program, dari jenis pengajaran mata pelajaran ke program berbasiskan kompetensi ; dibutuhkan ada keluwesan yang sangat mungkin proses praktik kerja industri serta proses prinsip multy entry multy exit. Prinsip ini sangat mungkin peserta didik SMK yang sudah mempunyai beberapa unit kekuatan spesifik (karna program pengajarannya berbasiskan kompetensi), memperoleh peluang kerja didunia kerja, jadi peserta didik itu bisa saja meninggalkan sekolah. Serta bila peserta didik itu menginginkan masuk sekolah kembali merampungkan program SMK nya, jadi sekolah mesti buka diri menerimanya, serta bahkan juga menghormati serta mengaku ketrampilan yang didapat peserta didik yang berkaitan dari pengalaman kerjanya. Selain itu, system program berbasiskan ganda juga membutuhkan penyusunan praktik kerja di industri sesuai sama ketentuan kerja yang berlaku di industri yang berbeda dengan ketentuan kalender belajar di sekolah. 

f. Perubahan dari system yg tidak mengaku ketrampilan yang sudah didapat terlebih dulu, ke system yang mengaku ketrampilan yang didapat dari tempat mana serta lewat cara apa pun kompetensi itu didapat (Recognition of prior learning) 

System baru pendidikan kejuruan mesti dapat memberi pernyataan serta penghargaan pada kompetensi yang dipunyai oleh seorang. System ini juga akan berikan motivasi beberapa orang yang telah mempunyai kompetensi spesifik, umpamanya dari pengalaman kerja, berupaya memperoleh pernyataan jadi bekal untuk pendidikan serta kursus berkepanjangan. Untuk ini SMK butuh mempersiapkan diri hingga mempunyai instrument serta kekuatan menguji kompetensi seorang darimana serta lewat cara apa pun kompetensi itu diperoleh.  

g. Perubahan dari pembelahan pada pendidikan dengan kursus kejuruan, ke system baru yang mengintegrasikan pendidikan serta kursus kejuruan dengan terpadu 

Program baru pendidikan yang mengemas pendidikannya berbentuk paket-paket kompetensi kejuruan, juga akan mempermudah pernyataan serta penghargaan pada program kursus kejuruan serta program pendidikan kejuruan. System baru ini membutuhkan standarisasi kompetensi, serta kompetensi yang terstandar itu dapat diraih lewat program pendidikan, program kursus atau bahkan juga dengan pengalaman kerja yang didukung dengan gagasan belajar sendiri. 

h. Perubahan dari system terminal ke system berkelanjutan 
System baru tetaplah menginginkan serta memprioritaskan tamatan SMK segera bekerja, supaya selekasnya jadi tenaga produktif, bisa berikan return atas investasi SMK. System baru juga mengaku banyak tamatan SMK yang mungkin, serta potensi ketrampilan kejuruannya semakin lebih berkembang sekali lagi sesudah bekerja. Pada mereka ini di beri kesempatan untuk meneruskan pendidikannya ke tahap pendidikan yang lebih tinggi (umpamanya program Diploma), lewat satu sistem artikulasi yang mengaku serta menghormati kompetensi yang didapat dari SMK serta dari pengalaman kerja terlebih dulu. 
Untuk memperoleh system artikulasi yang efektif dibutuhkan “program antara” (bridging program) manfaat memantapkan kekuatan basic tamatan SMK yang telah memiliki pengalaman kerja, agar siap meneruskan ke program pendidikan yang lebih tinggi.
i. Perubahan dari manajemen terpusat ke alur manajemen mandiri (prinsip desentralisasi) 

Alur baru manajemen mandiri ditujukan berikan kesempatan pada provinsi serta bahkan juga sekolah untuk memastikan kebijakan operasional, asal tetaplah merujuk pada kebijakan nasional. Kebijakan nasioanl dibatasi pada beberapa hal yang berbentuk strategis, agar berikan kesempatan untuk beberapa pelaksana di lapangan berimprovisasi serta lakukan inovasi. Sistem pendewasaan SMK butuh diutamakan, untuk menumbuhkan rasa yakin diri sekolah lakukan apa yang baik menurut sekolah, dengan prinsip akuntabilitas (accountability) yang dengan patuh azas memberi penghargaan pada mereka yang layak dihargai, serta menindak mereka yang layak ditindak. 

j. Perubahan dari ketergantungan seutuhnya dari pembiayaan pemerintah pusat, ke swadana dengan subsidi pemerintah pusat 

Searah dengan prinsip permintaan driven, dual based program, pendewasaan manajemen sekolah, serta pengembangan unit produksi sekolah, system baru diinginkan bisa mendorong perkembangan swadana pada SMK, serta tempat tempat dana dari pemerintah pusat berbentuk menolong atau subsidi. System ini diinginkan dapat mendorong SMK berfikir serta berperilaku ekonomis.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar