Minggu, 10 Mei 2020

Guru Cukup 14 Jam KBM

Guru Cukup 14 Jam KBM



Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)



Menarik gagasan Guru Besar UPI, Prof. Dr. Said Hamid hasan, MA.  Semoga Saya tidak salah menerjemahkan dalam narasi pendidikan berikut. Ia mengatakan, “Guru tidak boleh dibebani mengajar lebih dari 14 jam per minggu”. Aha pendapat ini sangat profesor menurut Saya. 

Mengapa Saya katakan sangat profesor?  Karena gagasan ini seirama dengan realitas tuntutan dunia pendidikan di satuan pendidikan.  Ini bukan tuntutan guru, melainkan tuntutan ideal di lapangan. Ini gagasan emas yang harus ditangkap oleh Dirjen GTK yang baru Bapak Dr.  Iwan Syahril, Ph.D. Ayo Pak Dirjen yang baru, berani menerima gagasan emas?

Bukankah Bapak Dirjen belasan tahun sebelumnya sudah mengatakan butuh transformasi pendidikan bukan hanya reformasi pendidikan. Transformasi menurut Pak Dirjen GTK adalah tampil beda. Ada novelty  efektif dalam dunia pendidikan kita.  KBM 14 jam adalah tampil beda!

Apa yang menjadi alasan Prof. Dr. Said Hamid Hasan menggagasa KBM 14 jam? Mari kita dalami. Beliau mengatakan guru harus punya waktu untuk belajar, berpikir,  mengembangkan kreatifitas. Kalau kita lihat pemikiran Prof. Said Hamid nampaknya ada kemiripan dengan gagasan Pak Dirjen Iwan. 

Bukankah Pak Dirjen  Iwan setuju dengan pentingnya para guru menjadi pembelajar dan menolak guru sebagi tukang ngajar yang mekanis.  Saya melihat pemikiran Prof. Said Hamid  seirama dengan pemikiran Pak Dirjen Iwan. Pak Dirjen Iwan menuliskan bahwa  budaya belajar harus dicontohkan para guru. 

Prof. Said Hamid di atas mengatakn guru harus punya waktu untuk belajar. Bukankah guru belajar itu adalah buntuk siswa juga. Untuk siswa apa yang dibacanya dan untuk siswa saat Ia terlihat belajar. Siswa melihat guru belajar akan menstimulus rasa ingi belajarnya.

Prof. Said Hamid bahkan tidak setuju  UN sudah sejak lama. Ia pun mengkritik UKG yang tak efektif. Selanjutnya Beliau mengatakan di kelas kuliahnya tidak ada lagi UTS  dan UAS. Mahasiswa digiring membaca, membuat anotasi dan menulis (makalah). Ini penguatan literasi yang menjadi bagian kelemahan generasi kita. 

Selanjutnya Prof. Said Hamid “melarang” guru mengajar di sekolah lain atau beberapa sekolah. Beliau mengatakan gegara 24 jam KBM banyak guru kelelahan. Bila saya  narasikan guru jadi  mondar mandir di sejumlah sekolahan. Habis waktu dan lelah di jalan.  Guru habis energi dan menurut Prof. Said Hamid anak jadi dirugikan! Bisa jadi demikian. Guru terlambat, guru harus tarik nafas. Sementara anak didik menunggu.

Kembali ke Pak Dirjen Iwan, Ia menulisakan, “Guru pembelajar selalu mencari pengetahuan terkini dan terus mencari berbagai cara mengajar kreatif dan efektif. Guru pembelajar menginspirasi siswa dan masyarakat untuk gandrung belajar”. Mungkinkah gagasan ini tercapai dengan KBM minimal 24 jam. Bahkan ada guru hampir 40 jam KBM.

Seorang kepala sekolah  di Kota Sukabumi mengatakan, “Bila jam guru terlalu banyak maka anak didik dipastikan akan terabaikan. Komunikasi  dan sinergi dengan orangtua kurang, Plus  pengembangan diri  guru menjadi  terhambat”.  Menuntut profesionalitas guru dalam “jebakan” jam KBM di atas 14 jam sangat tak mudah.

Sebagai pengurus organisasi profesi guru, Saya tahu persis bila jumlah KBM 24 jam bagi guru muda masih mending. Bisa dibayangkan guru senior yang berumur mendekati pensiun mengajar 24 jam KBM.  Guru akan terus menua, sementara anak didik tak pernah menua. Mereka selalu dalam usianya dan berganti setiap tahun.

Bila kita harus jujur melihat fakta di lapangan pendidikan kita. Wakasek yang punya beban mengajar 12 jam KBM  saja hampir tidak bisa  full karena sibuk mengurus tugas tambahan dan tugas pengembangan lainnya. Dahulu saat kepala sekolah ada tugas mengajar 6 jam KBM pun mayoritas tidak bisa masuk.

Mengapa 12 jam dan 6 jam saja hampir tidak bisa maksimal? Karena tugas menjadi guru itu tidak hanya tukang ngajar.  Apalagi sekolah yang siswanya ratusan bahkan ribu.  Guru jadi robot KBM demi mengendalikan  ribuan anak. Bukan demi melayani secara personal dan kreatif. 

Meminjam istilah Pak Dirjen Iwan ada guru mekanik atau tukang ngajar. Guru mekanik dan tukang ngajar adalah guru yang teacher centered. Sejatinya peran  istimewa guru jadi tergerus karena beban KBM.   Padahal guru harus sama-sama pembelajar dengan siswa. Polanya student centered. 

Studen centered adalah guru berhamba pada anak didik. Secara maksimal melayani anak didik, karena punya cukup waktu.  Kalau mengajar wajib seminggu 24 jam KBM maka yang terjadi adalah bukan berhamba tapi menjadi “hamba sahaya”  pendidikan. Loyo dan tak sempat belajar.

Ayoo Pak Dirjen GTK Bapak  Dr. Iwan Syahril, Ph.D lakukan terobosan! Bisakah guru mengajar 14 jam? Biarkan guru punya banyak waktu untuk tarik nafas dan belajar meningkatakan layanan pada setiap anak didik. Guru bukan robot KBM,  tetapi  manusia pelayan masa depan anak didik!

Semoga menginspirasi
Salam Inovasi

#rumahbelajar #dutarumahbelajar #kemendikbud #kemendikbudri #pusdatin #pusdatinkemdikbud #pgrizamannow #gurukampung3t #merdekabelajar #manggaraiberinovasi #nttmaju #majubersamamercerdaskanindonesia #sm3t #komunitasgurupenggerakrumahbelajar

0 komentar:

Posting Komentar