Kamis, 15 Maret 2018

Sekolah Ambruk, Orang-orang Gotong Royong Bangun Ruangan Darurat


Sekolah Ambruk, Orang-orang Gotong Royong Bangun Ruangan Darurat Gunakan Kayu serta Daun Lontar 
Saat ambruknya bangunan sekolah SMKN 1 Amarasi karena angin kencang di Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, orang-orang sekitaran Desa Nekbaun bergotong royong untuk membuat ruang darurat. 

" Kebanyakan orang tua murid dikerahkan untuk membuat kembali bangunan SMKN 1 Amarasi Barat supaya beberapa siswa dapat sekolah meskipun aktivitas belajar mengajarnya dikerjakan dalam bangunan darurat, " kata Ketua Komite SMKN 1 Amarasi Barat, Isak Amnifu 
Gedung SMKN 1 Amarasi Barat yang dibuat dengan darurat mulai sejak th. 2014 lalu hancur diterjang angin kencang pada Rabu (26/7) sekitaran jam 15. 00 WITA. Angin kencang itu mengakibatkan tiga ruang kelas, satu ruang guru, serta satu ruangan perpustakaan hancur keseluruhan. 

Tidak cuma itu, sarana sekolah juga turut rusak seperti meja belajar, kursi, sampai printer punya sekolah yang hancur tertimpa bangunan rubuh itu. 

Amnifu menyebutkan, pihaknya saat ini sudah menyerahkan lahan seluas lima hektare di Amarasi Barat jadi tempat baru pembangunan ruangan darurat SMKN 1 yang ambruk itu. 

" Kita sudah mengikhlaskan lahan seluas 5 haktere ini untuk pemerintah supaya anak-anak daerah ini dapat memperoleh pendidikan yang baik, " tutur Amnifu. 

Ia meneruskan, beberapa orangtua murid itu sudah kerjakan bangunan sekolah darurat mulai sejak jam 08. 00 WITA pagi barusan dengan membawa juga kayu untuk tiang bangunan serta daun lontar jadi atapnya. 

" Kebanyakan orang tua murid membawah bekal sendiri untuk makan siang di tempat pembangunan bangunan sekolah. Kita usahakan tiga hari sekolah darurat ini sudah terbangun kembali, " ungkap dia. 

Ia mengharapkan Kementerian Pendidikan Nasional bisa menolong pembangunan gedung SMKN 1 Amarasi ini supaya lahan seluas lima haktare yang didapatkan warga itu, bukan sekedar untuk bangunan darurat. 

Sesaat Kepala SMKN 1 Amarasi Barat, Maher Kase menerangkan, sepanjang pembangunan sekolah darurat dikerjakan, aktivitas persekolahan tetaplah dikerjakan, walau dibawah pohon lokasi sekolah. 

" Untuk sesaat kami sekolah dibawah pohon. Yang perlu anak-anak tidak kepanasan. Pasti aktivitas belajar begini tidak nyaman, namun mesti dikerjakan sesuai sama jadwal
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar