Kamis, 15 Maret 2018

Jokowi Tidak Menginginkan Banyak Guru Normatif di SMK


Presiden Joko Widodo (Jokowi) di hadapan beberapa rektor menyoroti program pendidikan vokasi yang sekarang ini dipandang masih tetap kurang efisien. Pasalnya, banyak sekolah kejuruan yang malah kekurangan guru praktek pada beragam daerah. 

Menurut Jokowi, sekolah kejuruan yaitu satu diantara jalan keluar untuk problem ketenagakerjaan di Indonesia. Termasuk juga salah satunya yaitu pendidikan sampai ke tingkat kursus tenaga kerja. 
Saya dalam satu minggu tempo hari masuk ke 4 SMK karna agar ayah ibu sudah mengetahui kalau tenaga kerja Indonesia, ini kenyataan yang harus juga saya berikan 42 % itu ada lulusan SD, 66 % itu yaitu lulusan SD serta SMP, 82 % itu lulusan SD, SMP, SMA, SMK. Berikut keadaannya, " katanya di JCC, Jakarta, 

Cuma saja, pendidikan vokasi di Indonesia mempunyai problem yang cukup serius. Salah satunya yaitu problem sarana yang ketinggalan sampai 30 th. dibanding negara yang lain. 

Tidak cuma itu, Jokowi juga menyoroti keadaan tenaga pendidik di SMK. Menurut Jokowi, tenaga pendidik SMK sampai sekarang ini masih tetap didominasi oleh tenaga pengajar normatif. 

" Saya saksikan di SMK nyaris bebrapa serupa dengan SMA nyaris 70 % sampai 80 % yaitu guru-guru normatif yang ada, guru matematika guru kimia, guru biologi, guru agama, guru Bhs Indonesia, Bhs Inggris, " terang Jokowi. 

Walau sebenarnya, semestinya guru pada tahap SMK 70 % sampai 80 % salah satunya yaitu guru yang bisa memberi pengetahuan dengan praktek. Perihal ini pula yang butuh dibenahi untuk tingkatkan kwalitas tenaga kerja di Indonesia. Terlebih untuk kampus yang hasilkan tenaga pendidik setahap tahunnya. 

" Mesti ada sesudah percepatan supaya dapat mengupdate melakukan perbaikan level mereka dalam soal skill, " tutup Jokowi.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar