Senin, 30 Oktober 2017

Naya, Sosok Pegiat Literasi Cilik asal Sleman

Naya, Sosok Pegiat Literasi Cilik asal Sleman
Sore itu Minggu (22/10/2017) di Dusun Ngelo Pendowoharjo Kabupaten Sleman, beberapa puluh anak-anak berkumpul di halaman tempat tinggal seseorang tokoh orang-orang dusun itu. Satu motor beroda tiga yang dimodifikasi jadi perpustakaan keliling terlihat terparkir di satu tempat yang teduh. Seseorang gadis kecil, Nayahani Imara Wijaya (11) terlihat tengah membacakan narasi dimuka anak-anak yang berkumpul di halaman itu. 

Hari itu Naya, panggilan gadis kecil itu, tengah membacakan narasi Bubuksah serta Gagangaking, narasi mengenai dua anak bersaudara yang juga akan diterkam harimau, tetapi selamat karena kepintaran mereka. Naya menceritakan dengan lincah, ekspresif, serta kadang-kadang disertai riuh tepuk tangan anak-anak pendengarnya. Diakhir pembacaan dongeng, Naya mengajak anak-anak yang ada untuk pilih buku, serta selekasnya membaca. 

Telah jadi aktivitas teratur untuk Naya, temani ayahnya berkeliling-keliling dari kampung ke kampung dengan perpustakaan kelilingnya. Bapak Naya, Nuradi Indra Wijaya (41) yang disebut pendiri Tempat tinggal Pandai Mata Aksara, yaitu pegiat literasi yang sepanjang lebih dari sepuluh th. aktif menumbuhkan budaya membaca di orang-orang. 

Naya bukan sekedar pintar mendongeng serta menceritakan, tetapi siswi kelas 5 sekolah basic itu juga pintar bermain sulap. Ia juga seringkali sharing rahasia sulap pada anak-anak sepantarannya. 

Gadis kecil yang telah lancar membaca mulai sejak umur empat th. itu menginginkan supaya di tiap-tiap dusun ada perpustakaan meskipun kecil, hingga anak-anak tidak mesti menanti datangnya perpustakaan keliling hanya sekedar untuk membaca buku. " Saya menginginkan supaya di tiap-tiap dusun ada sudut baca, jadi tak perlu senantiasa bergantung dengan perpustakaan keliling. Dengan terdapatnya sudut baca itu pastinya akan banyak anak-anak yang dekat dengan buku serta pada akhirnya sukai membaca, " tutur siswi SD Jenis Ngemplak Sleman itu. 

Ia juga menginginkan pemerintah mengimbau orang-orang menyumbangkan buku-buku mereka untuk sudut baca supaya koleksi bukunya banyak, hingga menarik ketertarikan anak-anak untuk datang ke sudut baca. " Telah kita berikan ke Kementerian Pendidikan serta Kebudayaan supaya ada imbauan pada beberapa orangtua untuk menyumbangkan buku-buku mereka manfaat isi sudut baca atau taman bacaan, " tutur anak ke-2 dari dua bersaudara itu. 

Beragam prestasi di bagian menulis serta menceritakan sempat ia capai. Paling akhir Naya ada mewakili Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam arena Animo Sastra Siswa Sekolah Basic yang di gelar Direktorat Pembinaan Sekolah Basic (PSD) Kemendikbud di Bogor Jawa Barat, tanggal 26 hingga 28 Oktober 2017.  

Di arena itu, Naya mencapai Juara I dalam lomba mendongeng. Ia yang ada ditemani ayahnya terlihat semangat saat terima penghargaan dari Direktur PSD Wowon Widaryat. 

Tetapi untuk Naya, jadi juara tidaklah hal terutama yang menginginkan ia capai dalam satu pertandingan. " Berjumpa dengan beberapa penulis cilik, beberapa pegiat literasi, memperoleh banyak pengalaman yaitu yang lebih perlu dari sebatas jadi juara, " kata gadis yang bercita-cita jadi dokter anak itu. 

Ia masih tetap selalu semangat pelajari beberapa hal baru, membaginya dengan anak-anak di sekitaran dusunnya. Ia juga selalu temani bapak serta ibunya berkeliling-keliling kampung ke kampung menumbuhkan kecintaan membaca terlebih untuk anak-anak. " Mudah-mudahan anak-anak Indonesia jadi anak pembelajar yang haus ilmu dan pengetahuan, serta awalannya yaitu cinta membaca, " ujarnya.

Sumber: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar