Jumat, 23 Juni 2017

Karakter Pendidikan Kejuruan


Pendidikan kejuruan mempunyai karakter yang berlainan dengan unit pendidikan yang lain. Ketidaksamaan itu bisa dikaji dari maksud pendidikan, substansi pelajaran, tuntutan pendidikan serta lulusannya. 
1. Maksud pendidikan kejuruan 
Pendidikan kejuruan mempunyai tujuan untuk tingkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, dan ketrampilan peserta didik untuk hidup mandiri serta ikuti pendidikan selanjutnya sesuai sama program kejuruannya. Dari maksud pendidikan kejuruan itu memiliki kandungan arti kalau pendidikan kejuruan di samping mempersiapkan tenaga kerja yang profesional juga menyiapkan peserta didik agar bisa meneruskan pendidikan ke tahap yang lebih tinggi sesuai sama program kejuruan atau bagian ketrampilan. 
Berdasar pada maksud pendidikan kejuruan diatas, jadi untuk mengerti filosofi pendidikan kejuruan butuh dikaji dari landasan penyelenggaraan pendidikan kejuruan seperti berikut : 
a. Anggapan mengenai anak didik 
Pendidikan kejuruan mesti melihat anak didik jadi individu yang senantiasa dalam sistem untuk meningkatkan pribadi serta seluruh potensi yang dipunyainya. Pengembangan ini menyangkut sistem yang berlangsung pada diri anak didik, seperti sistem jadi lebih dewasa, jadi lebih pintar, jadi lebih masak, yang menyangkut sistem perubahan karena dampak eksternal, diantaranya berubahnya karier atau pekerjaan karena perubahan sosial ekonomi orang-orang. 
Pendidikan kejuruan adalah usaha sediakan stimulus berbentuk pengalaman belajar untuk menolong mereka dalam meningkatkan diri serta potensinya. Oleh karenanya, kekhasan setiap individu dalam berhubungan dengan dunia luar lewat pengalaman belajar adalah usaha terintegrasi manfaat mendukung sistem perubahan diri anak didik dengan maksimal. Keadaan ini tertampilkan dalam prinsip pendidikan kejuruan “learning by doing”, dengan kurikulum yang bertujuan pada dunia kerja. 

 Baca Juga : Wisata Kopi

b. Konteks sosial pendidikan kejuruan 
Maksud serta isi pendidikan kejuruan selalu dibuat oleh keperluan orang-orang yang beralih demikian cepat, sekalian harus juga bertindak aktif dalam turut dan memastikan tingkat serta arah perubahan orang-orang dalam bagian kejuruannya itu. 
Pendidikan kejuruan berkembang sesuai sama perubahan tuntutan orang-orang, lewat dua institusi sosial. Pertama, institusi sosial yang berbentuk susunan pekerjaan dengan organisasi, pembagian peranan atau pekerjaan, serta tingkah laku yang terkait dengan penentuan, pencapaian serta pemantapan karier. Institusi sosial yang ke-2, berbentuk pendidikan dengan peranan gandanya jadi media pelestarian budaya sekalian jadi media terjadinya perubahan sosial. 

c. Dimensi ekonomi pendidikan kejuruan 
Hubungan dimensi ekonomi dengan pendidikan kejuruan dengan rencanatual bisa diterangkan dari kerangka investasi serta nilai balikan (value of return) dari hasil pendidikan kejuruan. Dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan, baik swasta ataupun pemerintah harusnya pendidikan kejuruan mempunyai konsekwensi investasi semakin besar dari pada pendidikan umum. Selain itu, hasil pendidikan kejuruan semestinya mempunyai kesempatan tingkat balikan (rate of return) lebih cepat dibanding dengan pendidikan umum. Keadaan itu bisa saja karna maksud serta isi pendidikan kejuruan didesain searah dengan perubahan orang-orang, baik menyangkut beberapa pekerjaan pekerjaan ataupun pengembangan karier peserta didik. 
Pendidikan kejuruan adalah usaha wujudkan peserta didik jadi manusia produktif, untuk isi keperluan pada beberapa peranan yang terkait dengan penambahan nilai lebih ekonomi orang-orang. Dalam kerangka ini, bisa disebutkan kalau lulusan pendidikan kejuruan semestinya mempunyai nilai ekonomi lebih cepat dibanding pendidikan umum. 

d. Konteks Ketenagakerjaan Pendidikan Kejuruan 
Pendidikan kejuruan mesti lebih fokus usahanya pada komponen pendidikan serta kursus yang dapat meningkatkan potensi manusia dengan maksimal. Walau pada intinya hubungan pada pendidikan kejuruan serta kebijakan ketenagakerjaan yaitu hubungan yang dilandasi oleh kebutuhan ekonomis, namun mesti senantiasa diingat kalau hubungan penyelenggraan pendidikan kejuruan tidak hanya ditetapkan oleh kebutuhan ekonomi. 
Dalam konteks ini disimpulkan kalau pendidikan kejuruan, dengan dalih kebutuhan ekonomi, tidak semestinya cuma mendidik anak didik dengan seperangkat skill atau kekuatan khusus untuk pekerjaan spesifik saja, karna kondisi ini tidak memerhatikan anak didik jadi satu totalitas. Meningkatkan kekuatan khusus dengan terpisah dari totalitas pribadi anak didik, bermakna memberi bekal yang begitu terbatas untuk masa depannya jadi tenaga kerja. 

2. Peserta didik 
Peserta didik pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) lebih dikhususkan untuk anak yang berkemauan mempunyai kekuatan vokatif. Keinginan mereka sesudah lulus bisa segera bekerja atau meneruskan ke perguruan tinggi dengan ambil bagian profesional atau bagian akademik. Umur peserta didik pada umumnya pada rentang 15/16 – 18/19 th., atau peserta didik ada pada saat remaja.  

Masa remaja adalah masa peralihan pada masa anak dengan dewasa. Pada saat ini umumnya berlangsung gejolak atau ketegangan yang sehubungan dengan sisi afektif, sosial, intelektual serta moral. Keadaan ini berlangsung karna ada perubahan-perubahan baik fisik ataupun psikis yang amat cepat yang mengganggu stabilitas kepribadian anak. Oleh karenanya, didalam membuat evaluasi untuk anak yang berumur remaja ini seyogianya memerhatikan beberapa pekerjaan perubahan yang perlu dikerjakan beberapa remaja. Sebagian pekerjaan perubahan remaja yang disarikan dari Sukmadinata (2001), yakni : 
a. Dapat merajut hubungan yang lebih masak dengan sebaya serta type kelamin beda. Belajar bekerja dengan orang yang lain untuk menjangkau maksud spesifik, dapat melepas perasaan pribadi serta dapat memimpin tanpa ada menguasai. 
b. Dapat lakukan beberapa peranan sosial jadi lelaki serta wanita. Dapat menghormati, terima serta lakukan beberapa peranan sosial jadi lelaki serta wanita dewasa. 
c. Terima keadaan jasmaninya serta bisa memakainya dengan efisien. Remaja dituntut untuk senang pada serta terima dengan lumrah keadaan tubuhnya, bisa menghormati atau menghormati keadaan tubuh orang yang lain, bisa pelihara serta melindungi keadaan tubuhnya. 
d. Mempunyai keberdirisendirian emosional dari orangtua serta orang dewasa yang lain. Remaja diinginkan sudah terlepas dari ketergantungan jadi kanak-kanak dari orang tuanya, bisa menyayangi orangtua, menghormati orangtua atau orang dewasa yang lain tanpa ada bergantung pada mereka. 
e. Mempunyai perasaan dapat berdiri dengan sendiri dalam bagian ekonomi. Terlebih pada anak lelaki, lalu makin lama makin juga tumbuh pada anak wanita, perasaan dapat untuk mencari nafkah sendiri. 
f. Dapat pilih serta menyiapkan diri untuk satu pekerjaan. Anak sudah dapat buat rencana karier, pilih pekerjaan yang pas serta dapat ia lakukan, buat persiapan-persiapan yang sesuai sama. 
g. Belajar menyiapkan diri untuk perkawinan serta hidup berkeluarga. Mempunyai sikap yang positif pada hidup berkeluarga serta miliki anak. 
h. Meningkatkan beberapa rencana serta ketrampilan intelektual untuk hidup bermasyarakat. Meningkatkan beberapa rencana mengenai hukum, pemerintahan, ekonomi, politik, institusi sosial yang pas untuk kehidupan moderen, meningkatkan ketrampilan berfikir serta berbahasa agar bisa memecahkan problema-problema orang-orang moderen. 
i. Mempunyai tingkah laku sosial seperti yang diinginkan orang-orang. Bisa berperan serta dengan rasa tanggung jawab untuk perkembangan serta kesejahteraan orang-orang. 
j. Mempunyai seperangkat nilai sebagai dasar untuk tindakannya. Sudah mempunyai seperangkat nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan, ada tekad serta usaha untuk mewujudkannya.

3. Substansi pendidikan kejuruan
Substansi dari pendidikan kejuruan mesti menghadirkan karakter pendidikan kejuruan yang tercermin dalam beberapa segi yang erat dengan rencana kurikulum, yakni :
a. Tujuan (Orientation)
Kurikulum pendidikan kejuruan sudah bertujuan pada sistem serta hasil atau lulusan. Kesuksesan paling utama kurikulum pendidikan kejuruan bukan sekedar diukur dengan kesuksesan pendidikan peserta didik di sekolah saja, namun dengan juga hasil prestasi kerja dalam dunia kerja. Finch serta Crunkilton (1984 : 12) menyampaikan kalau : Kurikulum pendidikan kejuruan bertujuan pada sistem (pengalaman serta kesibukan dalam lingkungan sekolah) serta hasil (dampak pengalaman serta kesibukan itu pada peserta didik).

b. Basic kebenaran/Juicetifikasi (Juicetification)
Pengembangan program pendidikan kejuruan memerlukan argumen atau juicetifikasi yang pasti. Juicetifikasi untuk program pendidikan kejuruan yaitu ada keperluan riil tenaga kerja di lapangan kerja atau didunia usaha serta industri. Basic kebenaran/juicetifikasi pendidikan kejuruan menurut Finch serta Crunkilton (1984 : 12), meluas sampai lingkungan sekolah serta orang-orang. Saat kurikulum bertujuan pada peserta didik, jadi support untuk kurikulum itu datang dari kesempatan kerja yang ada untuk beberapa lulusan.

c. Konsentrasi (Focus)
Konsentrasi kurikulum dalam pendidikan kejuruan tidak lepas pada pengembangan pengetahuan tentang satu bagian spesifik, namun mesti dengan simultan menyiapkan peserta didik yang produktif. Finch serta Crunkilton (1984 : 13) menyampaikan kalau : Kurikulum pendidikan kejuruan terkait segera dengan menolong siswa untuk meningkatkan satu tingkat pengetahuan, ketrampilan, sikap serta nilai yang luas. Tiap-tiap segi itu pada akhirnya jadi bertambah dalam sebagian kekuatan kerja lulusan. Lingkungan belajar pendidikan kejuruan mengusahakan didalam meningkatkan pengetahuan peserta didik, ketrampilan mengikuti, sikap serta nilai dan penggabungan beberapa segi itu serta aplikasinya untuk lingkkungan kerja yang sesungguhnya.
Semua kekuatan itu diatas, bisa dikuasai oleh peserta didik lewat pengalaman belajar yang didapatkan, yakni berbentuk rangsangan yang diterapkan baik pada kondisi kerja yang tersimulasi lewat sistem belajar mengajar di sekolah ataupun kondisi kerja yang sesungguhnya pada dunia usaha atau industri (evaluasi didunia kerja). Dari hasil belajar atau kekuatan yang sudah dikuasai diinginkan bisa memberi peran pada pengembangan diri peserta didik, hingga mereka dapat bekerja sesuai sama tuntutan dunia usaha serta industri.

d. Standard kesuksesan di sekolah (In-school success standars)
Persyaratan untuk memastikan kesuksesan satu instansi pendidikan kejuruan diukur dari kesuksesan peserta didik di sekolah, tentang sebagian segi yang juga akan dia masuki. Penilaian kesuksesan pada peserta didik di sekolah mesti pada penilaian sesungguhnya atau kekuatan lakukan satu pekerjaan. Dengan kata beda kalau dalam standard kesuksesan sekolah mesti terkait erat dengan kesuksesan yang diinginkan dalam pekerjaan, dengan persyaratan yang dipakai oleh guru dengan merujuk pada standard atau prosedur kerja yang sudah ditetapkan oleh dunia kerja (dunia usaha serta dunia industri).

e. Standard kesuksesan diluar sekolah (Out-of school success standars)
Penentu kesuksesan tidak terbatas pada apa yang berlangsung di lingkungan sekolah. Standard kesuksesan diluar sekolah terkait dengan pekerjaan atau kekuatan kerja yang umumnya dikerjakan oleh dunia usaha atau dunia industri. Menurut Starr (1975), kalau : Meskipun standard kesuksesan bermacam antar sekolah serta antar Negara, namun kesuksesan itu sering ambil bentuk kenikmatan pegawai dengan ketrampilan lulusan, satu persentase tinggi lulusan yang memperoleh pekerjaan di bagian persiapan atau dalam bagian yang terkait, kenikmatan kerja lulusan, perkembangan yang dihadapi lulusan.
Jadi contoh, untuk memastikan kesuksesan diluar sekolah yang telah dikerjakan pada SMK yaitu dengan dikerjakannya uji level untuk kelas X serta XI, dan uji kompetensi untuk kelas XII yang dikerjakan oleh dunia usaha atau industri berdasar pada standard kompetensi nasional sesuai sama bagian ketrampilan.
Standard kelulusan diluar sekolah (out-of school success standars) dikerjakan oleh dunia usaha serta industri yang merujuk pada standard kompetensi sesuai sama bagian ketrampilan atau product yang dibuat oleh semasing industri.

f. Hubungan kerja sama juga dengan orang-orang (School-community relationships)
Satu usaha pendidikan mesti terkait dengan orang-orang, demikian juga dengan pendidikan kejuruan mempunyai tanggung jawab didalam menjaga hubungan yang kuat dengan beragam bagian ketrampilan yang berkembang di orang-orang.
Pengertian msyarakat yang dimakasud yaitu dunia usaha serta dunia industri. Penyelenggaraan pendidikan kejuruan mesti relevan dengan tuntutan kerja pada dunia usaha atau industri, jadi problem hubungan pada instansi pendidikan dengan dunia usaha atau industri adalah satu ciri karakter yang perlu untuk pendidikan kejuruan.
Perwujudan hubungan timbal balik berbentuk kesediaan dunia usaha atau industri, menyimpan peserta didik untuk memperoleh peluang pengalaman belajar di lapangan kerja atau industri, merpakan bentuk hubungan kerja yang sama-sama untungkan.

g. Keterlibatan pemerintah pusat (Federal involvement)
Keterlibatan pemerintah pusat ini terkait dengan dana pendidikan yang juga akan dialokasikan, karna hal semacam ini juga akan memengaruhi kurikulum. Umpamanya : Ketetapan jam pengajaran kejuruan spesifik serta type peralatan spesifik yang dipakai di bengkel atau laboratorium bisa menolong perubahan satu tingkat kwalitas yang lebih tinggi.

h. Kepekaan (Responsivenenss)
Prinsip yang tinggi selalu untuk bertujuan ke dunia kerja, pendidikan kejuruan mesti memiliki ciri berbentuk kepekaan atau daya suai pada perubahan orang-orang biasanya, serta dunia kerja pada terutama. Perubahan pengetahuan serta tehnologi, inovasi serta penemuan-penemuan baru di bagian produksi serta layanan, besar pengaruhnya pada perubahan pendidikan kejuruan. Untuk tersebut pendidikan kejuruan mesti berbentuk responsif pro aktif pada perubahan pengetahuan serta tehnologi, dengan usaha lebih mengutamakan pada sifat adaptabilitas serta fleksibilitas untuk hadapi prospek karier peserta didik dalam periode panjang.

i. Logistik
Kurikulum pendidikan kejuruan dalam implementasi aktivitas evaluasi butuh di dukung oleh sarana beajar yang ideal, karna untuk wujudkan kondisi belajar yang bisa mencerminkan kondisi dunia kerja dengan realistis serta mendidik, dibutuhkan banyak peralatan, fasilitas serta perbekalan logistik. Bengkel kerja serta laboratorium yaitu kelengkapan paling utama dalam sekolah kejuruan yang perlu ada jadi sarana untuk peserta didik didalam meningkatkan kekuatan kerja sesuai sama tuntutan dunia usaha serta industri.
Keperluan untuk koordinasi program kejuruan yang bekerja bersama dengan industri di orang-orang, terkait erat untuk merajut serta menjaga pusat kerja untuk peserta didik tunjukkan satu susunan unit persoalan logistik.

j. Pengeluaran (Expense)
Pengeluaran teratur jadi cost pendidikan pada pendidikan kejuruan yang mendukung aktivitas evaluasi, meliputi cost listrik, air, pemeliharaan serta pergantian perlengkapan, cost transportasi ke tempat/industri (tempat praktik kerja/magang) yang jauh dari sekolah. Selain itu, perlengkapan mesti diperbarui dengan periodik juga guru mengharapkan untuk memberi pengalaman belajar yang sesungguhnya untuk peserta didik seperti seperti di industri, jadi ini dapat jadi mahal. Yang paling akhir yang harus juga jadi perhatian yaitu pembelian bahan habis jadi bahan praktikum yang dipakai dengan teratur sesuai sama program ketrampilan yang diperkembang pada SMK semasing.
Dari uraian tentang karakter pendidikan kejuruan yang disarikan dari Finch serta Crunkilton (1984) diatas, bisa jadikan referensi didalam pengembangan kurikulum pendidikan kejuruan di Indonesia. Kurikulum pendidikan kejuruan yang diperkembang di Indoneisa seyogianya merujuk pada karakter seperti berikut :
1) Pendidikan kejuruan diarahkan untuk menyiapkan peserta didik masuk lapangan kerja
2) Pendidikan kejuruan didasarkan atas keperluan dunia kerja
3) Konsentrasi isi pendidikan kejuruan diutamakan pada penguasaan pengetahuan, ketrampilan, sikap serta nilai-nilai yang diperlukan oleh dunia kerja.
4) Penilaian yang sebenarnya pada keberhasilan peserta didik mesti pada “hands-on” atau performance dalam dunia kerja
5) Hubungan yang erat dengan dunia kerja adalah kunci kesuksesan pendidikan kejuruan
6) Pendidikan kejuruan yang baik yaitu responsif serta antisipatif pada perkembangan teknologi
7) Pendidikan kejuruan lebih diutamakan pada “learning by doing”
8) Pendidikan kejuruan membutuhkan sarana yang canggih untuk praktik sesuai sama tuntutan dunia usaha serta industri
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar