Selasa, 08 Agustus 2017

Kakek Ini Hanya Teringat Sawah Jelang Pergi Haji

 Sulih alias Asmad duduk berselonjor di teras kecil gedung Klinik Asrama Haji Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu, 5 Agustus 2017. Tatapan matanya kosong.

Sesekali bibirnya mengeluarkan kata-kata lirih tidak jelas. Tiga pria muda tampak berada di dekat pria usia 70 tahunan tersebut.


 
Asmad adalah jemaah calon haji asal Kabupaten Jember yang tergabung dalam kelompok terbang 31. Dia berangkat haji bersama istrinya, Arijah (65 tahun). Pasangan suami istri itu tiba di Asrama Haji Surabaya pada Sabtu pagi dan sesuai jadwal, akan diterbangkan ke Tanah Suci malamnya.

Beberapa jam masuk Asrama Haji, Asmad mendadak meracau. Petugas yang mengetahui itu lantas membawanya ke Klinik Kesehatan Asrama Haji. Dia diperiksa oleh petugas kesehatan. Diagnosis sementara, Asmad mengalami dimensia atau pikun. "Tadi buka-buka baju dan melepas-lepas kabel," ujar petugas klinik.

Asmad terus meracau, mengeluarkan kata-kata tak jelas. Dia lalu dibawa bersantai di teras gedung klinik. "Kalau ditanya haji, dia tidak nyambung. Coba tanya sawah dan ternak sapi, pasti nyambung," kata Hasan Noer, petugas kesehatan Situbondo yang mendampingi Kloter 31, termasuk Asmad.

Keterangan Hasan ada betulnya. VIVA.co.id coba berkomunikasi dengan Asmad dengan menggunakan bahasa Madura, bahasa satu-satunya yang dia bisa. Dia tidak merasa akan berangkat haji ke Tanah Suci. "Ca'n sapa? --kata siapa?" jawabnya ketika ditanya soal keberangkatannya ke Tanah Suci.

Tetapi Asmad berbicara lancar dan nyambung ketika diajak mengobrol tentang aktivitas bertani dan ternaknya di desa. "Tak namen padi, tape artak. Padi budduh sateah --Saya tidak menanam padi, tapi kacang hijau. Panen padi enggak bagus sekarang," katanya.

Arijah, istri Asmad, mengatakan bahwa suaminya mengalami kerancuan pikir dan sikap seperti itu semenjak ditinggal adik dan kakaknya yang meninggal lima bulan lalu. "Saudaranya meninggal, sekitar lima bulanan lalu. Baru saja selesai seratus harinya kok," katanya.

Sebelum Asmad, ada satu jemaah haji asal Ponorogo yang juga mengalami dimensia alias pikun sesampai di Asrama Haji Surabaya. Jemaah tersebut batal berangkat dan pulang ke rumah atas persetujuan pihak keluarga.

Sekretaris Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Embarkasi Surabaya, Achmad Faridul Ilmi, mengatakan bahwa satu jemaah calon haji asal Ponorogo yang mengalami pikun batal berangkat dan sudah dipulangkan ke daerah. "Keluarganya meminta agar dipulangkan saja," katanya.

Adapun soal Asmad, dia mengaku belum menerima laporan. Tetapi pada prinsipnya, jelas Faridul, batal atau tidaknya jemaah berangkat ke Tanah Suci karena sakit didasarkan pada hasil pemeriksaan dokter Kantor Kesehatan Pelabuhan Surabaya, lembaga kesehatan pemeriksa kesehatan jemaah calon haji.

"Kalau dokter merekomendasikan yang bersangkutan bisa berangkat, tentu PPIH akan memberangkatkan," ujar Ketua Bidang Haji dan Umrah Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur itu.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar